Saturday, November 09, 2019

"Doing Wallraffa": Etnografi dan Documentary Film Making dengan cara Mengintip



"Doing Wallraffa" 

Etnografi dan Documentary Film Making dengan cara Mengintip*


(*Artikel ini pernah saya tuliskan di notes FB pada 2014)


oleh Arie Setyaningrum Pamungkas (Tia Pamungkas)

Mungkin nama jurnalis 'Guenther Wallraff' tidak lah sepopuler Joshua Oppenheimer bagi publik di Indonesia termasuk para pengamat media. Meskipun dalam kajian media (media studies) dan jurnalisme nama Guenther Wallraff bukanlah nama yang 'asing' lagi bahkan metode yang dilakukannya menjadi suatu cara yang provokatif sekaligus dilematis di dalam pembuatan film dokumenter (documentary film making) yang didasari penelitian etnografis.

Metode yang dilakukan Wallraff inilah yang kemudian dikenal dengan istilah "doing Wallraffa" - dimana seorang jurnalis melakukan investigasi dan pendokumentasian melalui serangkaian metode etnografi - yang seringkali juga dilakukan oleh kebanyakan 'etnografer' - dengan memasuki wilayah dan lingkup sosial yang sedang diamatinya dan berusaha menjadi bagian dari 'insider' dengan cara mengadopsi identitas suatu komunitas yang sedang diamati itu sehingga kehadirannya diterima sebagai bagian dari komunitas itu secara alamiah.

Wallraff melakukannya secara provokatif! Sebagai seorang 'undercover jurnalis' - Wallraff tidak segan-segan melalukan riset bertahun-tahun, mempelajari bahasa dan aksen, menginvestasikan begitu  banyak energi untuk mempelajari budaya suatu komunitas yang hendak diungkapkannya - dimana kebanyakan dari target komunitas ini adalah kelas sosial marjinal di Jerman.

Film dokumenter Wallraff yang mengagetkan publik Jerman (kira-kira mungkin sama kagetnya dengan publik Indonesia ketika pertama kali menonton 'the Act of Killing' - nya Joshua Oppenheimer) adalah film-nya yang berjudul "Ganz Unten" atau "Lowest of the Low" pada tahun 1985 - dimana ia selama beberapa tahun mempelajari kondisi kehidupan para "Gastarbeiter" (Gast: Tamu, Arbeiter: Pekerja. Jadi semacam TKI - lah) para migran Turki yang berperan membangun kembali Jerman dari keruntuhan. Wallraff 'menyamar' secara fisik dengan menggunakan teknologi 'make-up' dan mempelajari dengan sungguh-sungguh aksen bahasa orang Turki, sehingga ia nampak secara natural seperti buruh migran Turki di Jerman yang mengalami eksploitasi dari dua arah, yakni perlakuan yang tidak adil (rasis) dari Pemerintah Jerman dan kondisi upah dan kerja yang amat buruk dari para pengusaha yang mempekerjakan para "Gastarbeiter" ini. 

Film Wallraff ini mengagetkan publik Jerman yang selama berpuluh-puluh tahun pasca perang Dunia telah berusaha secara sistematis pasca kekalahan Jerman di Perang Dunia ke II, baik karena tekanan internasional - maupun tuntutan internal dari dalam masyarakat Jerman sendiri untuk melakukan proses 'De-nazifikasi' dan isu mengenai 'Gleichbehandlung' atau semacam 'Equal Opportunity' - kesempatan untuk menjadi setara menjadi isu dan polemik yang cukup sengit  di dalam negeri sendiri. Perlu dicatat, bahwa film dokumenter yang dibuat Wallraff ini masih di dalam konteks dimana Jerman masih belum bersatu, dan konteksnya mengambil kondisi di Jerman Barat dimana kebanyakan buruh migran Turki didatangkan dalam jumlah yang besar untuk membangun kembali reruntuhan Jerman sebagai kuli-kuli bangunan. Konteks ini menjadi penting karena 'Jerman Barat' secara ekonomi dan budaya merupakan 'kloning' Amerika Serikat, bahkan institut yang dimiliki oleh pemerintah AS yang secara strategis 'mendikte' kepentingannya pada Jerman Barat berada disana. 

Film-film Wallraff berikutnya pasca runtuhnya Tembok Berlin-pun semakin menarik karena bersatu-nya Jerman melahirkan berbagai komplesitas persoalan sosial dan budaya yang lain. Ia kemudian membuat film dokumenter serupa dengan teknik serupa yang provokatif, misalnya untuk film "Unter den Null" (Dibawah Nol) - suatu film dokumenter mengenai 'menjamurnya gelandangan dan fakir miskin yang hidup di jalanan pada musim dingin. Wallraff secara provokatif mengkritik adaptasi ekonomi dan sistem kesejahteraan sosial di  Jerman (setelah periode unifikasi) yang semakin jauh dari nilai-nilai berbasis komunal dan sosialisme yang merupakan 'identitas khas Jerman'. Orang berakhir di Jalanan dan menjadi gelandangan yang mati kedinginan bukan semata-mata karena ia 'pemalas' dan berbagai stigma lain dalam masyarakat kapitalis moderen. Di film ini Wallraff menunjukkan berbagai problema sosial yang rumit dan persoalan yang bukan semata-mata bersifat institusional (soal bagaimana negara menyelenggarakan sistem kesejahteraan sosial) - melainkan juga perubahan sikap masyarakat Jerman sendiri pada kaum miskin dan gelandangan kota yang dianggap sebagai 'sampah masyarakat' (stigma bahwa kebanyakan dari mereka jadi gelandangan karena suka mabuk dstnya).

Film Wallraff yang terakhir saya tonton di Jerman adalah "Schwarz auf Weiss": Eine Reise Durch Deutschland (Hitam diatas Putih: Suatu Perjalanan Mengelilingi Jerman). Disini Wallraff menyamar sebagai seorang 'migran' Afrika dengan teknik make-up yang membuatnya benar-benar 'mirip' seperti seorang keturunan dari Ghana atau wilayah Afrika lainnya. Dengan penampilan baru sebagai 'black man' Wallraff berkeliling kota-kota kecil dan besar di Jerman dari utara ke selatan, dari barat ke timur untuk mengetahui seperti apa rasanya 'mengalami perlakuan kurang menyenangkan sebagai orang asing'; 'apakah rasisme di Jerman masih nyata sementara secara formal masyarakat dan pemerintah Jerman menolak segala paham rasisme dan perlakuan diskriminatif'; 'bagaimana generasi muda Jerman yang tak mengalami konstruksi ideologis pasca perang dunia ke dua, dan semasa perang dingin melihat keberadaan orang berkulit lain tetapi berbahasa Jerman dengan amat lancar dan bahkan berperilaku sebagaimana umumnya orang Jerman. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ditelusuri oleh 'Wallraff'. 

Catatan pribadi saya yang menarik adalah di dalam film ini Wallraff menunjukkan bahwa 'resistensi penolakan atas orang asing - atau migran kulit berwarna yang berkewarganegaraan Jerman' lebih merupakan suatu bentuk 'rasisme halus' yang tidak disadari oleh publik Jerman sendiri karena semua orang menganut apa yang kita kenal sebagai TST-tahu sama tahu - tapi tak perlu kita bincangkan secara terbuka di publik. Orang Jerman sendiri banyak yang 'lelah' dengan berbagai stigma dari masa lalu. Hampir setiap hari TV publik memutar film tentang 'kekejaman rezim Hitler dan Nazi' nya - yang bahkan mungkin hampir tak ada artinya lagi bagi setiap 'kaum muda' keturunan Arya di Jerman, karena kebanyakan mereka menganggap 'terputus dari sejarah itu' dan tak mau dibebani oleh dosa ideologis 'nenek moyang mereka'. Menarik-nya, kebanyakan resistensi (rasisme halus) yang dialami Wallraff sebagai 'orang Afrika berkewarganegaraan Jerman' di film ini justru datang 'kelompok tua-berumur' - generasi yang mengalami konstruksi ideologis perang dingin dimana proses de-nazifikasi juga mereka jalani di masa-masa sekolah mereka sejak tahun 1950-an hingga 1970-an baik di Jerman Barat maupun di Jerman Timur. Sementara kelompok pemuda yang agak rasis adalah sekelompok pemuda yang 'marah' pada pemerintah Jerman karena dianggap membuang banyak uang untuk memperhatikan para pendatang ketimbang 'bangsa-nya sendiri'. Anak-anak muda pemarah ini sebetulnya sama sekali tidak ideologis tetapi menjadi sasaran empuk para propagator neo-nazi. 

Suatu dialog menarik yang saya 'catat' dan membuat saya 'meringis' adalah ketika Wallraff sebagai orang keturunan Afrika mendatangi suatu motel di pinggir kota Berlin, disana ia muncul sebagai orang Jerman keturunan Afrika "berduit" - tetapi ditolak masuk menginap di dalam motel meskipun di muka motel ditulis "masih ada kamar". Pemilik hotel dengan berbelit-belit berbohong dengan halus sekedar untuk menolak kehadiran Wallraff sebagai tamunya. Dan Wallraff-pun pergi. Seorang crew Wallraff lainnya (orang jerman berkulit putih)  selang beberapa detik kemudian masuk ke motel itu dan mendaftar sebagai tamu, dan diterima. Ketika sedang melakukan proses cek in, si pemilik motel 'curhat' pada crew Wallraff ini..bahwa baru saja dia menolak seorang keturunan Afrika dan meskipun sepertinya orang itu sudah jadi 'Jerman' dan punya banyak uang (karena Wallraff menunjukkan banyak kartu kredit dan uang cash di muka pemilik motel sebelumnya) - si pemilik motel tetap tak berkenan. Crew Wallraff yang menyamar sebagai 'tamu berikutnya' bertanya: "lho kenapa kamu menolak dia, bukankah yang penting dia punya uang dan mampu membayar?" Jawaban si pemilik hotel mengejutkan: " Ja..wir brauchen Geld aber nur von unserem Geld!" (Ya kita butuh uang, tapi uang yang berasal dari 'kita' sendiri!).

Gerakan-gerakan TST dan sunyi seperti inilah yang terjadi menurut Wallraff dimana sebagian orang Jerman tak mau berbelanja di toko Turki, tak mau bertransaksi dengan kelompok migran. Dan Wallraff melakukannya secara provokatif dan metode ini acapkali diserang dan dikritik sebagai metode peliputan yang tidak etis (unethical) - karena dianggap "mengintip secara ilegal" dan tidak adil bagi subyek pelaku yang terlibat di dalam pendokumentasian film2nya. Benarkah yang dilakukan Wallraff adalah 'unethical'? Bagaimana dengan kerja para peneliti, para etnografer yang masuk ke dalam kebudayaan komunitas lain dan menjadi 'insider'? Wallraff selalu menggunakan argumen ini untuk menekankan pentingnya 'mengintip secara ilegal' untuk mengungkap fakta kebenaran. Persoalannya, siapa dan untuk siapa 'kebenaran' itu dijustifikasi-kan? Itu persoalan lain. 

Referensi:
Braun, Ina. 2007. "Guenther Wallraff: Leben, Werk, Wirken, Methoden". Koeningshaussen und Neumann
Kriesse, Wilfrid. 2010. "Guenther Wallraff in my eyes: A Report". Abe books.
Eriksson, Erik. 2009. "The Legendary Guenther Wallraff" - online paper, bisa diunduh di alamat



Sumber Lain di Youtube:

Hitam di Atas Putih (schwarz auf weiss) http://www.youtube.com/watch?v=d1cZkO8nbT4
Di bawah titik Nol (unter Null) https://www.youtube.com/watch?v=n8Ec94B6RS0
Ganz Unten (Di bagian Kerak: Terbawah dari yang terbawah) https://www.youtube.com/watch?v=VxMkXcypdUc


Ibu, bagaimana aku harus menghadapi dunia, tanpamu?

 Ibuku pergi ke haribaan Illahi pagi pukul 03.05 WIB di hari  Sabtu, 9 Juli 2022. Aku tidak ada di sisinya, tetapi selalu ada di hatinya, se...